Di hari yang berbahagia ini khususnya bagi bunda
(hari ini bunda ulang tahun bertepatan dengan Hari Pahlawan lho!), bunda ingin berbagi informasi yang sangat berharga terutama bagi para CPNS yang akan menjalani tes kesehatan.
Seperti diketahui, para CPNS sebelum diangkat secara resmi menjadi PNS harus melewati serangkaian kegiatan seperti prajab, tes kesehatan, dan penilaian (DP3) dari instansinya.
Bunda dapat informasi mengenai jadwal tes kesehatan ini secara mendadak, untungnya ga perlu banyak persiapan sih cukup kondisi badan sehat dan sejumlah uang untuk biaya tes kesehatannya tsb. Rumah Sakit rujukannya adalah RSCM, dekat kantorlah sekali naik bis langsung sampai. Oya, bagi yang pertama kali ke RSCM dijamin pusing deh cari-cari ruangan tesnya makanya bunda lagi baik hati nih…disimak ya.
Dari halaman depan RSCM (yang dekat Universitas YAI, sekolah PSKD) langsung terlihat IGD terus belok kanan sampai ada tanda panah merah dan tulisan apotek 24 jam ikutin saja lalu belok kiri ketemu lift naik deh ke lantai 3 menuju ke klinik rawat jalan yang posisinya dari lift belok kanan sebelum ruangan akupuntur.
Sesampai di ruangan klinik rawat jalan bilang sama mbak susternya, nanti akan diminta untuk mengisi formulir (hanya untuk menulis data diri dan riwayat kesehatan saja, oya siapkan pulpen ya) sertakan pula surat pengantar dari instansi kerja. Nanti suster akan memberikan selembar formulir untuk rontgen (isi nama dan umurnya).
Ruangan untuk rontgen berada di Paviliun Kemuning yang terletak dilantai 1, petunjuknya dari lift langsung belok kiri sampai di pertigaan terlihat deh ruangan dengan pintu dan jendela kaca, masuk deh daftar, bayar biaya tes rontgen sebesar Rp 73,000 dan tunggu dipanggil. Hasil tes rontgen dapat diambil sekitar 1/2 -1 jam kemudian. Lebih baik ditunggu agar sekalian dibawa kembali ke lantai 3 lagi.
Di lantai 3, kita menunggu lagi…banyak-banyak bersabar dan ikhlas deh apalagi kalau jumlah pasien banyak. Sembari menunggu akan diberikan 2 kantong plastik dan tabung plastik untuk tes urine. Kantong plastiknya diberi nama dan instansi ya agar tidak tertukar. Toilet berada di ujung sebelah kanan. 2 kantong plastik tsb, untuk naro tabung urine dan darah (kantong plastik yang kita pegang hanya yang untuk tabung urine saja, untuk darah disimpan oleh susternya).
Karena lama, tadi bunda dan bunda Afini akhirnya ke kantin dulu kebetulan memang sudah jam makan siang. Kantin posisinya ada dilantai 1 dari lift belok kiri terus (kalau lihat papan petunjuknya sih searah dengan ruang jenazah hiii serem banget deh). Selain isi perut kita juga beli air minum, cemilan dan tabloid pokoknya siap tempur deh
Untungnya saat kita kembali lagi ke ruangan sudah sepi hanya tinggal beberapa pasien jadi cepet proses tes darahnya. Setelah itu kita bayar biaya tes darah yaitu Rp 239,000 (mahal disini nih sepertinya). Suster memberitahukan ke kita berdua untuk kembali lagi lusa, hari Kamis untuk wawancara dengan dokter dan memang hasil semua tes tadi baru ketahuan di hari Kamis. Siapkan juga uang untuk biayanya.
Tips-tips selama menjalani tes kesehatan selain yang terpenting menjaga kondisi kesehatan tubuh agar hasilnya baik ada tambahan beberapa hal yang remeh seperti siapkan uang pas (uang ribuan, pecahan kecil) karena susah dapat kembalian; bawa pulpen; bawa air minum, cemilan, bacaan untuk mengisi waktu selama menunggu (kebetulan tadi bunda menjalani tes darah yang ga perlu puasa jadi boleh ngemil).
Sedikit bercerita mengenai oleh-oleh khas Medan. Beberapa minggu lalu ayah dinas luar kota ke Medan selama 5 hari, untungnya ayah pulang membawa oleh-oleh tidak hanya baju kotor
sebenarnya mungkin tidak diniatkan untuk membawa oleh-oleh tapi karena teman kerjanya nitip ya sekalian aja.
Oleh-oleh khas Medan tuh sebenarnya banyak ada sirup markisa, manisan jambu bangkok, teri medan, teng-teng kacang, jus terong belanda, kopi sidikalang, bika ambon, bolu gulung Meranti, dll (google saja sendiri ya…); ayah hanya membeli 2 macam oleh-oleh yaitu bolu gulung Meranti dan bika ambon Zulaikha.
Bolu Gulung Meranti, Jl. Kruing 2K – Medan, Telp: 061-453-8217. Ayah membeli yang Standar Swiss Roll rasa Keju, menurut bunda untuk rasa bolunya sendiri biasa (untuk ukuran rasa menurut standar kota Jakarta), manis; kelebihannya dikejunya banyak banget tapi kalo kebanyakan makan bikin eneg cocok disantap dengan teh pahit.
Bika Ambon Zulaikha, Jl. Mojopahit No. 62, Telp: 061-452-8181. Bika Ambon yang dibeli oleh ayah adalah Bika Ambon rasa Durian, enak ada aroma dan sedikit rasa durian.
Mengutip tulisan Pak Bondan Winarno secara acak lengkapnya baca disini:
Industri oleh-oleh merupakan subsektor ekonomi yang sangat khas Indonesia. Di bagian dunia lainnya, jarang sekali saya melihat fenomena ini. Di Amerika Serikat, misalnya, beberapa kota besar memiliki ikon kuliner yang cukup populer. Tetapi, hampir semuanya merupakan makanan yang harus disantap di tempat. Takeaway hanya sebatas membawa makanan dari restoran ke rumah, bukan dari satu kota ke kota lain. Hal yang sama juga berlaku di Eropa. Bahkan di negara-negara Asia yang lain pun saya belum melihat tradisi berbelanja oleh-oleh seperti di Indonesia.
Justru karena merupakan satu hal yang sangat khas, mestinya sektor bisnis oleh-oleh ini harus dipikirkan lagi secara selangkah ke depan, khususnya untuk memberi kemudahan bagi konsumen yang pada gilirannya pasti akan menggelembungkan nilai ekonominya. Bayangkan, bila setiap penumpang pesawat terbang menenteng satu kemasan oleh-oleh dari setiap bandara pemberangkatan, berapa nilai ekonomi baru yang dapat dibangkitkan? Apalagi bila dipikirkan pula sistem produksinya secara bertingkat agar menguntungkan para pelaku ekonomi golongan kecil dan menengah. Ekonomi rakyat di bidang kuliner adalah kekuatan kita sejak dulu.
Yang juga sangat perlu dipertimbangkan adalah kemasan serta usia produk. Alangkah kecewanya kita bila membawa ayam panggang kalasan yang ternyata sudah basi ketika tiba di rumah. Berbagai jenis kue basah juga cukup rentan terhadap waktu, sehingga perlu ditangani secara khusus. Klappertaart dari Manado repot dibawa untuk perjalanan jauh.
Setuju banget kan baca tulisannya Pak Bondan? ayo kita kembangkan dan tingkatkan industri kreatif bidang oleh-oleh!
ps: dari cerita oleh-oleh khas Medan koq melebar hingga industri kreatif bidang oleh-oleh? sebenarnya ini pesan bunda untuk ayah agar setiap dinas luar kota ya bawa buah tangan gitu ga harus makanan, kan bisa kain tradisional khas daerah tsb, kerajinan tangan lainnya atau cerita pengalaman disana juga gapapa-lah
Entah dari mana awalnya Hamad suka sekali dengan mbrum…
Mbrum adalah mobil, mau mobil sedan, angkot, metro mini, truk sampah, truk trailer/truk kontainer semua disebutnya mbrum.
Mungkin karena ayah+bunda terlalu banyak membelikan mainan mobil-mobilan? sebut saja ada truk trailer hadiah ultah pertama dari Pakde Bekasi, dump-truck kuning dan mobil balap beli di Pasar Gembrong, kereta mobil beli di ITC, truk kuning (lagi) beli di Ciamis, bulldozer punya tetangga
, sedan balap beli di depan Islamic (kondisinya sudah hancur dipretelin). Padahal dulu bunda memperkenalkan bola sebagai mainan pertamanya, sekarang main mobil sambil pegang bola
Bangun tidur langsung bilang mbrum; lihat majalah/tabloid/koran langsung cari mbrum, buka laptop/komputer pengen lihat mbrum; jalan-jalan dengan motor ayah, jarinya nunjuk-nunjuk ke mbrum; keliling komplek rumah dengan sepeda yang dicari mobil tetangga yang sedang parkir atau sengaja berpapasan dengan mobil, mendengar suara mesin mobil saja bisa mengalihkan perhatiannya
Untuk memuaskan hasrat Hamad akan mbrum selain membelikan mainan mobil-mobilan, ayah+bunda juga membelikan buku tentang transportasi, tabloid otomotif, majalah autobild bekas, temenin Hamad buka website ferrari dan berbagai merek mobil lainnya, cari group car di flickr (di-slide show agar terlihat berbagai macam foto mobil yang ada), search di google image atau bing, membelikan dvd Finley The Fire Engine.
Ayah+bunda memang memiliki rencana untuk membeli mobil pribadi (Amin…semoga lekas terwujud) tapi masih dalam tahap hunting santai menyesuaikan dengan budget selain itu harus merenovasi halaman depan rumah apabila kesampaian beli mobil soalnya rumah tidak ada garasi jadi harus menyingkirkan beberapa tanaman dan bangku depan teras rumah. Kalau seperti ini sepertinya bukan cuma Hamad yang suka mbrum, ayah+bundanya juga pengen
ps: gambar diambil dari sini
Minggu kemarin suhu badan Hamad meningkat, bikin bunda khawatir padahal aktivitas Hamad berjalan normal usut punya usut ternyata sedang tumbuh gigi dan tidak tanggung-tanggung 5 gigi sekaligus
jadi total giginya sekarang adalah 12.
Tumbuh gigi menjadikan Hamad lebih lancar dalam berbicara dan lebih dimengerti (khususnya bagi bunda). Kata-kata apa saja yang sudah dapat diucapkan dan Hamad mengerti artinya antara lain: jatoh-jatuh; brum-mobil; uwe-kue; num-minum; mam/mamam-makan; ua(r)-keluar; wit-duit; tu-itu/disitu; yayah-ayah…baru sedikit ya?
Tapi ada kalanya bunda tidak dapat menterjemahkan apa yang diucapkan oleh Hamad seperti kata NU dan NI. Dua kata ini seringnya muncul apabila Hamad sedang rewel, terbangun dari tidur. Akhirnya yang bisa bunda lakukan adalah menawarkan segala hal seperti menawarkan kue/air minum, mengajak ke kamar mandi, menyetelkan dvd, mengajak keluar kamar/rumah, dll pokoknya sampai tangisannya terhenti
Selain kemampuan bahasa ada lagi kemampuan kebiasaan baik (duh, gak tau apa istilahnya) seperti:
- Bila Hamad hendak mandi dia bisa mengambil sendiri handuknya, menaruh baju kotor ke ember dan langsung menuju ke kamar mandi dan ambil sabun, sikat gigi, shampo untuk dicemplungin ke bak mandi…hehehe yang terakhir disebutin tidak termasuk kebiasaan baik ya?
- Bila hendak makan, dia akan mengambil sendiri piring plastik di lemari piring kemudian menyodorkan ke bunda atau simbak untuk diambilkan nasi dan lauk pauknya. Posisi lemari dan tempat penyimpanan piring memang dapat dijangkau olehnya tapi posisi magic jar di meja makan lebih tinggi.
- Setiap sehabis minum susu dari botol atau minum air putih dari gelas, dia akan meletakkan botol atau gelas tsb diatas meja makan walaupun kaki mungilnya harus jinjit lalu dia sorongkan botol/gelasnya sehingga botol/gelas tidak terletak dipinggir meja agar tidak jatuh atau tersenggol orang dewasa. Kadang dia lupa atau sengaja tidak menaruh kembali gelas minumnya tapi tangannya dimasukkin ke dalam gelas terus mulai menciprat-cipratkan air ke karpet atau mainan mobil-mobilannya dan pernah juga bunda mergokin Hamad menciprat-cipratkan air di gelas ke motor ayah (maksudnya mau nyuci motor kali).
- Membantu bunda mengeluarkan keranjang pakaiannya di pagi hari. Pakaian harian Hamad bunda taruh di keranjang pakaian yang setiap pagi dikeluarkan dari kamar dan malam harinya dimasukkan lagi ke kamar jadi simbak ga perlu masuk ke kamar kita. Di pagi hari saat keluar dari kamar, bunda bawa keluar pakaian kotor (kena ompol) Hamad; botol susu; botol air putih atau mainan yang dibawa masuk dan juga tidak lupa keranjang pakaian Hamad biasanya untuk keranjang pakaian tidak perlu diangkat-angkat cukup didorong pakai kaki
dan atas kemauan Hamad sendiri biasanya dia dorong keranjang pakaian tsb menggunakan kedua tangannya. Kekuatan tangan Hamad boleh dibilang lumayan strong hehehe selain keranjang pakaian, Hamad juga sering angkat-angkat mainan keledai karet, keranjang mainan, dan mainan mobil balapnya. Untuk mainan mobil balapnya biasanya Hamad angkat dari dalam rumah ke luar rumah karena lantai teras lebih tinggi daripada lantai dalam atau saat mobil balapnya tidak bisa belok ya diangkat saja oleh Hamad. - Mengambil sandal/sepatu sendiri. Hamad cukup handal untuk dapat mengambil sandal/sepatu sendiri masalahnya bunda belum menempatkan koleksi sandal/sepatunya dalam satu rak sepatu khusus milik Hamad jadi sering kali begitu dia diminta untuk mengambil sandal/sepatu dia langsung lari ke dalam tapi kebingungan karena sandal/sepatunya ada yang nyelip dibawah meja makan atau di rak tv.
Kemampuan Hamad seperti diceritakan tadi memang bikin bunda bangga karena ada beberapa kemampuan yang dapat Hamad kerjakan atas inisiatifnya sendiri, bikin kita kagum deh tapi ya itu kadang keluar juga manjanya maunya diladenin atau keluar deh bahasa planet NU dan NI yang bikin bingung bunda karena gak tau maunya apa sedangkan bunda sudah menyodorkan beberapa pilihan tetapi Hamad tetap rewel.
Hari ini Hamad genap berusia 1.5 tahun atau dengan kata lain 18 bulan. Padahal…
21 April 2008; bunda pengen juga melahirkan di tanggal ini agar mudah mengingat tanggal kelahirannya yang sama dengan Ibu Kartini tapi sepertinya tidak ada tanda-tanda melahirkan…
23 April 2008; bunda tetap beraktivitas seperti biasa, tetap berangkat kerja diantar oleh ayah dengan mengendarai sepeda motor (we are bikers family
) dan naik tangga menuju ruang kerja di lantai 3.
Bagi ibu hamil apalagi saat hamil tua memang biasa banget bolak-balik ke toilet, pagi itu bunda juga tuh tapi koq berasa keluar lendir bening seperti keputihan ya? banyak lagi, agak was-was juga. Tanya ke rekan-rekan kerja gak ada yang mengalami hal tsb…duh ada apa ya? sepengetahuan bunda tanda-tanda melahirkan adalah kontraksi dan pendarahan. Rekan kerja ada yang menyarankan jangan khawatir, tenang dan duduk diam dulu.
Bunda telepon ke klinik bidan tempat periksa kehamilan dan bunda diminta periksa ke klinik untuk memastikan, oke bunda langsung telepon ayah minta dijemput dan bunda minta izin ke bos via skype
berhubung beliau belum datang. Pulanglah kita ke klinik bidan, tetap dengan naik sepeda motor.
Setiba di klinik, sempat menunggu pula bunda akhirnya diperiksa tingkat keasaman lendir tsb yang ternyata adalah air ketuban. Bidan menyarankan bunda diinduksi karena tidak ada tanda-tanda kontraksi sedangkan ketuban sudah pecah yang bila dibiarkan saja akan membahayakan nyawa bayi. Diinduksi itu bunda disuntik diransang untuk berkontraksi alias kontraksi buatan. Rasanya? awal-awal sih tidak terasa tapi selanjutnya sakit banget tidak bisa diungkapkan deh
bunda diinfus sejak pukul 11-12 siang dan melahirkan pada pukul 10.25 malam.
Ayah yang sedianya akan mengabadikan proses kelahiran Hamad dengan handycam malah ikutan panik
bunda bahagia dapat melahirkan dengan didampingi oleh ayah walaupun tidak ada Mama yang nun jauh di Qatar.
Semua rasa sakit tersebut hilang saat Hamad lahir dan menangis untuk pertama kalinya…lega banget. Tanpa dimandikan hanya dibalut kain flanel Hamad langsung diletakkan di dada bunda untuk merasakan IMD (Inisiasi Menyusui Dini) sayangnya ASI belum keluar
meskipun demikian Hamad S1 ASI Eksklusif lho…
Itu sedikit flashback dari bunda biar gak lupa bagaimana proses kelahiran Hamad.
Bagaimana dengan perkembangan Hamad? postingan berikutnya saja ya…
keterangan foto: jas hujan rosida, magic roaster, baby harness
3 pilihan barang mewakili 3 keperluan bunda saat ini, jadi bingung mana yang harus didahulukan. Coba diuraikan di bawah ini:
- Jas Hujan, sebagai seorang bikers
*lebay mode on* menjelang musim hujan ini harus memiliki sepasang jas hujan. Jas hujan yang kita miliki ada yang hilang dicuri orang karena dibiarkan tergantung di motor saat parkir, ada juga yang jahitannya robek. Ada sih jas hujan polisi yang modelnya seperti inspector gadget tapi berat, ribet dan tubuh bagian bawah tetap kebasahan. Beberapa waktu yang lalu saat belanja bulanan di Tip Top Rawamangun kita ada beli jas hujan mereknya Rosida dan memang kualitasnya bagus eh tapi jas hujan tsb ternyata dipake sama ayah
. Bunda ada rencana mau beli jas hujan merek Rosida juga secara online via FJB Kaskus dan harga+ongkirnya sama saja seperti kita beli sendiri di toko. - Magic Roaster, kalo yang ini adalah alat bakar ikan di kompor gas. Bunda lagi pengen melengkapi koleksi alat dapur nih (halah kayak ibu-ibu banget) dan bunda tuh suka banget sama masakan yang caranya dibakar gitu ‘kan bosan digoreng mulu. Minggu kemarin saat jalan-jalan di supermarket Diamond-Mall Artha Gading ada lihat alat ini, ada dua macam yang aluminium Rp 80-ribuan dan yang anti lengket harganya Rp 100,000. Kemarin sih masih mikir-mikir antara pengen beli atau tidak eh sekarang pas ada uangnya jadi pengen. Rencananya sepulang kerja kan kelewatan tuh mall, sekalian saja mampir cuma masalahnya harus nyebrang jalan dan banyak jalan kaki karena jarak jalan raya ke mall lumayan jauh. Pengennya sore ini kesana karena Sabtu/Minggu kan waktunya bunda beli ikan biar langsung dipraktekkan
- Baby Harness, buat yang melihatnya mungkin akan beranggapan, “ihhh kayak hewan piaraaan aja diiket gitu” tapi bunda punya alasan kenapa pengen beli baby harness yaitu agar saat kita berjalan bersama anak seperti di mall, kita tetap “tersambung” dengan anak kita. Tau sendiri kan memasuki masa toddler anak kita maunya jalan sendiri terus karena tertarik dengan pemandangan yang dilihatnya di mall maka memisahkan diri dari kita makanya untuk menghindari anak hilang perlu dibeli baby harness ini. Bunda cari alat ini via Multiply, ini salah dua penjualnya adekmungil atau astroshop. Masih pikir-pikir beli atau tidak karena bunda jarang ke mall (hehehe) dan Hamad kadang pengennya digendong
.
Nah, mana nih yang harus dibeli? semuanya
ga sekaligus lah. Kalau sempat bunda review disini
Ini adalah buku pertama yang dimiliki oleh Hamad.
Sebelum buku tersebut, bunda pernah membelikan beberapa tabloid dan majalah tapi kondisinya sudah berantakan, sampulnya lepas, beberapa halaman disobek asal
.
Bunda ingin mengenalkan buku sedini mungkin kepada Hamad meskipun sekarang sudah eranya internet. Sebenarnya dilihat dari bahan buku yang pertama kali sesuai untuk bayi kita adalah cloth book; buku yang terbuat dari kain. Bunda juga sudah browsing di multiply tapi selalu tidak kebagian, sold out terus.
Sejalan dengan usia Hamad dan kemampuan jemarinya akhirnya pilihan bunda jatuh ke board book; buku yang terbuat dari karton tebal, bunda pergi ke Gramedia Matraman dan disini banyak sekali pilihan buku untuk bayi baik produksi dalam negeri maupun impor. Ngomong-ngomong buku impor, bukunya bagus-bagus baik dari segi bahan buku, tampilan buku maupun isinya tapi harganya itu mahal! sekitar Rp 100,000-an keatas. Bunda jadi pikir-pikir lagi deh untuk membeli buku impor tsb dan pas bunda ke rak buku lokal ternyata ada beberapa board book bagus seperti foto disudut kiri tsb dan yang terpenting harganya terjangkau sekitar Rp 20,000-an.
Isi buku untuk bayi adalah pengenalan awal bayi kepada diri sendiri dan lingkungan sekitar makanya isinya ga jauh-jauh dari mengenal angka, mengenal huruf, mengenal bentuk/warna/tumbuhan/buah/hewan/alat transportasi/profesi, dll karena Hamad memiliki minat yang tinggi kepada alat transportasi khususnya mobil makanya bunda belikan buku my first transport book selain itu untuk mengingat hewan apa saja yang kemarin dilihat di Ragunan bunda juga membelikan buku my picture book animal world dan sebagai pengganti flash card bunda beli buku balita mengenal huruf.
Bunda tadi ada menyebutkan pernah membelikan tabloid dan majalah untuk Hamad, ya bunda pernah beli tabloid Otomotif dan majalah Autobild di toko buku bekas di Pasar Senen
Hamad tuh suka sekali dengan mobil mau di tv ada siaran F1 atau hanya iklan yang ada mobilnya pasti dia langsung bilang, “mbrum” apalagi saat diajak jalan-jalan dan melihat mobil ya begitu juga reaksinya. Maka dari itulah bunda puaskan keinginannya melihat aneka jenis mobil dengan membeli tabloid dan majalah tsb.
Sekarang setiap menjelang tidur, rutinitas kita adalah membaca buku tsb. Oya, bila kita berkunjung kembali ke Ragunan bunda akan membawa serta buku animal world-nya jadi Hamad bisa melihat bentuk nyata dari hewan-hewan yang ada di buku. Selain itu, untuk melihat bentuk nyata dari alat transportasi seperti kereta api mungkin kita akan sengaja berangkat dari stasiun Gambir menuju Bogor sekadar untuk memberikan pengalaman pertama Hamad naik kereta listrik walaupun bukan kereta api
Tadinya bunda mau cerita tentang Hamad yang susah disuapin, maunya dia sendiri yang pegang sendok. Sempat googling cara mengatasi anak susah makan dan menemukan banyak tips yang susah-susah gampang dipraktekkan, malah tambah pusing.
Sebenarnya senang juga Hamad bisa makan sendiri, bunda juga dulu pernah berangan-angan supaya anak bunda bisa makan sendiri kayak bayi bule
. Bunda ga mau tuh yang namanya makan sambil jalan-jalan atau makan berjam-jam. Kesalahan bunda selama ini adalah bergantung pada simbak urusan nyuapin anak jadi ya gitu deh kelimpungan saat simbak pulang kampung akibatnya pola makan Hamad selama libur lebaran berantakan.
Sudahlah daripada meratapi kesalahan, bunda ada dapat artikel bagus dari eHow tentang ”How to teach baby to self feed”. Disini bunda akan meringkas artikel tsb. Jadi dalam mengajarkan bayi kita untuk dapat makan secara mandiri, kita harus mempersiapkan beberapa peralatannya yaitu: sendok bayi, piring bayi, bib, kursi makan bayi (meja & kursi bayi), placemat. Usahakan peralatan makan tsb memiliki penampilan menarik tak lupa aman bagi bayi tentunya. Mengenai sendok bayi, cocoknya yang seperti ini:
tapi bunda sendiri belum menemukannya
, harus ngubek-ngubek baby shop dulu nih. Kembali ke artikel, langkah berikutnya adalah siapkan area tertentu syukur-syukur di meja makan dan makan bersama dengan anggota keluarga lainnya. Untuk makan mandiri perdana pasti akan sangat berantakan jadi persiapkan segala peralatan tadi ya.
Makanan yang cocok untuk disajikan adalah finger food (resepnya cari sendiri ya…atau gampangnya sayuran rebus seperti wortel atau buah dipotong kecil sesuai genggaman tangan bayi) atau makanan utamanya langsung juga gapapa koq. Memulai memberi makan dengan memberikan sesendok makanan tsb dan berikan ke bayi kita (bukan disuapin ya) bila dia tertarik pasti akan langsung mengambil sendok tsb. Kita tawarkan lagi dengan menggunakan sendok lainnya. Pasti bayi kita akan antusias untuk makan secara mandiri tapi bila tiba bayi kita terlihat frustasi karena gagal makan sendiri maka bantulah dengan menyuapinya. Setelah acara makan selesai segeralah dibersihkan area makan tsb tentunya bersihkan bayi kita juga. Jadi setiap bayi kita lapar, langsung deh siapkan segala peralatannya.
Ini ada beberapa foto Hamad yang sedang makan sendiri (foto ini diambil saat kita jalan-jalan ke Ragunan):
Dilihat-lihat sih ga sesuai pakem dalam artikel tsb diatas
namanya juga dalam kondisi diluar kebiasaan alias lagi piknik.
Rasanya nuansa lebaran hanya terasa di hari pertama saja, hari berikutnya ya berjalan normal seperti biasanya. Kita sebagai warga kota metropolitan merasa terjebak dalam keheningan desa
Kita putuskan agenda hari ini adalah jalan-jalan…horeee!!!
Eits, sebelumnya di pagi hari selain menghilangkan rasa suntuk Hamad kita ajak Hamad mengenal alam lingkungan lebih dekat, lingkungan alami yang ga ditemuin di Jakarta. Semuanya ada di halaman rumah Radi (diatas rumah Radi kan hutan). Kebetulan Radi mempunyai beberapa hewan piaraan seperti ayam, burung hantu dan domba garut (domba ini sebenarnya punya saudara jadi hanya bantu merawat & memelihara). Lumayan deh pengetahuan fauna Hamad semakin luas sebelum dikenalkan dengan kebun binatang Ragunan.
Siangnya kita siap jalan-jalan keliling desa ehm salah deh lintas kabupaten. Start dari dusun Citeureup (di desa Cinyasag, kecamatan Panawangan) terus persinggahan pertama di Cikijing – Majalengka untuk mampir ke ATM BNI dan belanja makanan ringan untuk persiapan balik dan tujuan akhir adalah waduk Dharma yang sudah masuk wilayah kabupaten Kuningan.
Waduk Dharma ini ramai sekali dikunjungi, berderet motor parkir di dekat jembatan tak lupa banyak pedagang kakilima. Kita cukup berfoto di dekat jembatan saja, terlihat seperti di luar negeri kan?
Pulangnya kita mampir lagi di Cikijing untuk mengisi perut dengan membeli bakso (salah satu makanan favorit ayah). Saat berangkat tadi kita melihat beberapa warung bakso yang ramai dikunjungi oleh orang dan dari sekian banyaknya warung bakso adalah warung bakso Ronasari yang terletak di pasar Cikijing inilah yang paling ramai pembelinya sampai-sampai yang jualan ga kelihatan
begitu pesanan datang terlihat 8 buah bakso ukuran bola pingpong memenuhi mangkuk (pantes aja rame, banyak gitu baksonya) dan rasanya lumayan enak, kita juga beli beberapa porsi bakso untuk nenek dan saudara.
Dalam jalan-jalan naik motor kali ini, bunda melakukan kesalahan yaitu tidak memakaikan Hamad celana panjang+kaos kaki alhasil perjalanan pulang sekitar sehabis maghrib Hamad nangis kedinginan walaupun sudah diselimuti kain gendongan (bunda dimarahi ayah, agar lebih mengenal situasi jangan disamakan dengan kondisi Jakarta) maka sesampainya di rumah Hamad langsung dibaluri minyak kayu putih dan berganti pakaian piyama tak lupa pakai kaos kaki. Maafkan bunda ya Hamad telah membiarkan Hamad kedinginan.















