Libur 4 Hari

Mei 21st, 2012 § 1 Komentar

Yeayyy! Awalnya kan galau harpitnas apa bukan trus bela-belain googling keputusan menteri tentang cuti bersama, lumayan kan kalo diliburkan kalo gak juga gapapa sih *boong banget* :D

Memangnya libur 4 hari mau ngapain aja? Hehehe gak ada rencana juga sih, pengennya ke Bandung tapi ayahnya lagi ada acara outbond kantor, mau disusulin gak bisa juga karena pulang-pergi bareng rombongan kantor. Ya sudah lain kali aja deh mewujudkan keinginan Vito buat jalan-jalan naik kereta ke Bandung :)

Kamis. Pagi kita belanja lauk pauk sekalian nyari perlengkapan outbond ayah di Lembang. Ribet deh yang mau outbond perlengkapannya segambreng tapi demi azas penghematan anggaran cuma beli kaos kaki, topi kupluk dan celana pendek sisanya permak dan pake barang yang sudah ada. Oiya dekat dengkul sebelah kiri bunda kan digigit serangga dan bengkak, cenut-cenut bikin susah jalan mau dibiarin sembuh sendiri kok ya lama akhirnya sore hari pas anak-anak masih tidur berdua sama ayah ke klinik buat berobat. Malamnya ngantuk banget tapi dipaksa melek buat bantuin packing, bunda bagian QC dan ngomel-ngingetin gitu deh :P

Jumat. Ayah berangkat ke kantor dengan tas ransel super berat mana bawa telur rebus buat konsumsi kelompoknya. Kita yang di rumah sih gak ada acara, teteh-simbak dari kemarin sih lagi beberes rumah, jemur kasur dll. Sepi juga gak ada ayah…

Sabtu. Sengaja gak masak soalnya mau pergi ke acara perkenalan keluarga alias semi lamaran sepupu gitu deh. Dibilang semi lamaran karena emang baru perkenalan antar keluarga tapi juga ada acara tukar cincin gitu. Sepupu yang dulu masih kecil-kecil ternyata sudah lulus kuliah, sudah kerja, dilamar pulak… Betapa tuanya diri bunda :D Acaranya di Pondok Kelapa, hitungannya lumayan dekatlah naik taksi tinggal lewat tol belakang trus gak gitu jauh dari pintu keluar tol Kali Malang. Karena gak ada ayah dan mobil harus dibenerin dulu jadi bunda, Vito-Ghita, teteh-simbak naik taksi yang nyasar kelewatan dikit. Acaranya seru, banyak makanan #eh mana pulangnya dibekalin banyak banget. Perlunya datang ke acara keluarga gini kan buat mempererat tali silaturahmi ya karena biarpun sama-sama tinggal di Jabodetabek tapi jarang banget bisa ketemuan.

Minggu. Eh cepet juga udah hari minggu, habis juga long weekendnya. Di rumah saja menunggu ayah pulang outbond. Alhamdulillah bengkak di kaki sudah baikan. Siang iseng ngerapiin bingkai foto yang berserakan di ruang keluarga dipindah ke dinding ruang tamu. Next pengen ganti korden pake kain motif chevron warna kuning putih. Dindingnya sudah full warna hijau jadi biar lebih cerah pilih warna kuning dan putih. Kudu nyari dulu bahannya dan disaranin @magensaa beli kain trus dicat sendiri bareng anak-anak. Great idea!

Datar ya liburan long weekendnya? Ah siapa bilang justru dapat banyak pembelajaran di twitter. Namanya liburan leha-leha di rumah, anak ada yang jagain ya emaknya twitteranlah :P dan entah kenapa hot banget topiknya (tegangan tinggi banget nih emak-emak seTL). Trending topics dikalangan mahmud adalah mengenai micronutrien pada MPASI dan Pro-kontra Vaksin. Bunda sih lebih tertarik ditopik pertama. Awalnya kan opa DSA @hardiono yang menjawab pertanyaan tentang MPASI bayi : 2x makanan instan dan 1x home made, langsung dong buibu komentar defensif mana opa DSA gak langsung merespon (kewalahan kali ya diserang buibu). Langsung deh paginya menelusuri kultwit, sedikit paham apa yang dimaksud trus baca juga link WHO. Ngerti deh maksudnya bukan di MPASI instannya tapi lebih ke pentingnya mencukupi kebutuhan micronutrien pada MPASI bayi. Menurut opa @hardiono: Bagaimana solusi untuk memenuhi kebutuhan mikronutrien? 1. suplemen, 2. fortifikasi, 3. belajar memberi MPASI alamiah yang baik. Tuh, MPASI home made tetap juara kok tapi sebagai ibu sayang anak ayo belajar lagi bikin menu dan mengolah MPASI agar tercukupi kebutuhan nutrisinya. Oya tanda anak kekurangan mikronutrien terkadang tidak dapat dilihat secara kasat mata tapi bisa menimbulkan dampak serius pada tumbuh kembangnya. Sebelum rame topik ini kan pernah ada bahasan Anemia Defisiensi Besi (ADB) yaitu kekurangan zat besi (salah satu mikronutrien) yang dapat diketahui dengan cara tes darah lengkap. Ternyata berkaitan kan? Kalo mau baca lebih lengkap tentang screening ADB bisa baca diblognya @amaliacakra deh. Bunda pengen segera mengajak Vito dan Ghita screening ADB, katanya sih sakit tapi lebih baik tau sekarang daripada diam dan terlambat. Simposium IDAI mengenai mikronutrien ini kabarnya kan disponsorin produsen MPASI instan ya tapi mikir sisi positifnya saja deh toh kita bisa lihat DSA mana yang buntutnya jualan produk. Memang malesin sih kalo disuruh riset, belajar, baca artikel WHO tapi sekali lagi kan ini demi anak :)

Topik berikutnya yang rame adalah tentang pro-kontra vaksin, gak nyimak langsung karena pas ada acara keluarga. Baca TL juga malah puyeng :P Gini aja deh pendapat bunda:
- Jangan terlalu banyak baca cerita konspirasi deh, mempengaruhi pola pikir loh, coba berpikir jernih.
- Positive thinking. Semoga dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan bertambahnya ilmuwan muslim yang terlibat dalam pembuatan vaksin maka gak ada lagi komposisi/kandungan/katalisator/dll yang bersifat haram. Kan kalo gak mau dibohongin ya kita belajar untuk tau dong bagaimana prosesnya.
- Anak kita gak hidup sendiri. Bagi pro vaksin adanya anak yang tidak divaksin trus sakit itu horor banget loh ntar kalo menular bagaimana? Kan lebih bahaya sakitnya?

Sudah dulu ya, siap-siap menyambut Senin :)

Repost: Fatherless Country

Mei 12th, 2012 § 2 Komentar

Sebenarnya ini postingan paling gak kreatif karena sumbernya dari timeline twitter dan copas blog (saya sudah minta izin untuk copas) dan awalnya juga ditaro di FB note tapi ya jarang-jarang kan buka FB buat baca note jadi repost diblog sini sajalah.

Semua tentang dampak Fatherless on Parenting. Di era yang sangat kejam dengan kompetisi para ibu-ibu sehingga mau tidak mau, dicitrakan atau tidak, ada kebanggaan untuk menjadi supermom, yes ibu serba bisa. Bapake ndi? Yuk ah dibaca dan diskusikan bareng suami :D

Mengutip dari timeline Widi Mulia:

Sekitar 70% dari penghuni penjara dengan hukuman seumur hidup adalah orang-orang yang tumbuh dan kembang tanpa ayah. Para ayah, anda dirindukan dan dibutuhkan oleh anak-anak Anda. ( Dan ibunya :) ) Jangan habiskan seluruh energi & pikiran di tempat kerja, sehingga waktu tiba di rumah hanya memberikan ”sisa-sisa” energi & duduk menonton TV. Peluk anak-anak Anda, dengarkan cerita mereka, ajarkan kebenaran & moral. Anda tidak akan menyesal, karena mereka akan hidup sesuai jalan yang Anda ajarkan. Satu ayah lebih berharga daripada 100 guru di sekolah. (George Herbert)

Izin copas dari blog ini (diedit hanya untuk lebih nyaman dibaca).

Dear sp’s

Izinkan di sore ini saya untuk sedikit berbagi terkait dengan fenomena kekinian terkait dengan dunia parenting karena implikasinya sungguh luar biasa. Semata-mata untuk mengingatkan diri saya dan sp’s yang membutuhkan… wabil khusus (calon) papa/ayah/abu/abi/dedy dst.

Kemarin sore, selepas nyangkul di pabrik, seperti biasa saya sempatkan untuk mengikuti kajian/diskusi rutin mingguan di tempat kerja, kebetulan yg mengisi kemarin Pak Irwan Rinaldi (penulis buku “Aku Ingin Ayah”) sahabat Ibu Elly Risman yang mempunyai pengalaman didunia parenting lebih dari 20 tahun baik dalam/luar negeri. Informasi yang saya dapat dari beliau, 3 bulan yang lalu indonesia sekitar 65 menit waktu ayah berjumpa dengan anak (mungkin ini di kota-kota besar yang mobilitasnya sangat tinggi ditambah kemacetan yang luar biasa).
Menurut sebuah lembaga internasional di PBB (tolong mungkin teman-teman yang bekerja di NGO… bisa mencari datanya, saya sudah coba mencari belum menemukan) Indonesia masuk dalam “Fatherless Country”, kalau tak salah dengar peringkat ke 3 setelah Amerika (17 menit waktu efektif ayah bertemu anak) yang merupakan peringkat pertama. Miris saya mendengarnya… ber(ayah) ada, ber(ayah) tiada… ayah hadir secara fisik namun secara psikologis ayah tidak hadir dalam jiwa anaknya.

Sedih tidak mendengar fenomena ini bukankah kita/ayah bekerja 8 jam sehari mungkin lebih tak lain adalah untuk kebahagiaan anak, belum lagi ditambah isteri yang bekerja seperti fenomena yang terjadi sekarang. Terlebih di kota-kota besar, pola pengasuhan bukan motherhood/fatherhood lagi (keduanya keluar/kerja) berubah menjadi ‘mbahhood’, ‘mbakhood’, ‘bibihood’, ‘nonyhood’… bahkan lebih miris ‘tivihood’.

Tak ada yang salah dengan dinamika kehidupan rumah tangga ini, namun selayaknya kita tidak menjadi (mohon maaf) terlena dengan tugas kita dalam pola asah-asih-asuh anak kita, manfaatkan selalu “golden moment” di setiap kesempatan yang ada, karena masa-masa weekend saja belum cukup untuk menggantikan peran keayahan yang ditinggal selama 5 hari dalam seminggu. Dari “golden moment” inilah nantinya kita harapkan menjelma menjadi “golden opportunity” yang kelak nantinya akan menjelma menjadi “internaless”… membumi dalam jiwa dan sanubari anak (kepribadian anak-anak kita).

Mudah-mudahan dari yang sedikit ini ada sisi-sisi yang mungkin bisa dipetik untuk kita bawa pulang ke rumah. Ada kerinduan dari seoarang anak, selepas kita pulang kerja… manakala kita mengetuk pintu… atau mendengar deru mesin motor, mobil… segera berteriak lantang penuh kegirangan/berharap/bertanya… bukan menjadi cuek/diam/masa bodoh. Perlu komitmen dan sinergi antara orang tua untuk mengarahkan anak menjadi apa yang ingin menjadi cita-cita orang tuanya.

Di negara maju, wabil khusus Perancis, ini menjadi masalah serius dan 2 tahun yang lalu sudah menerapkan pola asah-asih-asuh yang membangun kebersamaan bukan hanya mama/bunda dst tapi juga ayah/papa dst.

Mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan, semata-mata keterbatasan saya dalam tutur/tulis saya. Kita tahu disini banyak ahlinya. Kita tunggu sharing dari papa atau mama, tips/trik aplikatif yang bisa langsung kita terapkan ke anak-anak kita.

salam parenting
bapakeghozan-’tak ada gading yang tak retak’
—————————————-

Sekedar bahan bacaan siapa tahu bermanfaat dan mohon maaf bila menuh-menuhin inbox :

The Consequences of Fatherlessness

Some fathering advocates would say that almost every social ill faced by America’s children is related to fatherlessness. Six are noted here. As supported by the data below, children from fatherless homes are more likely to be poor, become involved in drug and alcohol abuse, drop out of school, and suffer from health and emotional problems. Boys are more likely to become involved in crime, and girls are more likely to become pregnant as teens.

1. Poverty
- Children in father-absent homes are five times more likely to be poor. In 2002, 7.8% of children in married-couple families were living in poverty, compared to 38.4% of children in female-householder families.

Source: U.S. Census Bureau, Children’s Living Arrangements and Characteristics: March 2002, P20-547, Table C8. Washington DC: GPO 2003.

- In 1996, young children living with unmarried mothers were five times as likely to be poor and ten times as likely to be extremely poor.

Source: “One in Four: America’s Youngest Poor.” National Center for children in Poverty. 1996.

- Almost 75% of American children living in single-parent families will experience poverty before they turn 11 years old. Only 20 percent of children in two-parent families will do the same.

Source: National Commission on Children. /Just the Facts: A Summary of Recent information on America’s Children and their Families/. Washington DC, 1993.

Source: U.S. Bureau of the Census. Statistical Abstract of the United States 1994. Washington DC: GPO 1994.

2. Drug and Alcohol Abuse
- The U.S. Department of Health and Human Services states, “Fatherless children are at a dramatically greater risk of drug and alcohol abuse.”

Source: U.S. Department of Health and Human Services. National Center for Health Statistics. Survey on Child Health. Washington DC, 1993.

- Children growing up in single-parent households are at a significantly increased risk for drug abuse as teenagers.

Source: Denton, Rhonda E. and Charlene M. Kampfe. “The Relationship Between Family Variables and Adolescent Substance Abuse: A Literature Review.” /Adolescence/114 (1994): 475-495.

- Children who live apart from their fathers are 4.3 times more likely to smoke cigarettes as teenagers than children growing up with their fathers in the home.

Source: Stanton, Warren R., Tian P.S. Oci and Phil A. Silva.
“Sociodemographic characteristics of Adolescent Smokers.” /The International Journal of the Addictions/7 (1994): 913-925.

3. Physical and Emotional Health
- Unmarried mothers are less likely to obtain prenatal care and more likely to have a low birthweight baby. Researchers find that these negative effects persist even when they take into account factors, such as parental education, that often distinguish single-parent from two-parent families.

Source: U.S. Department of Health and Human Services. Public Health Service. Center for Disease Control and Prevention. National Center for Health Statistics. Report to Congress on Out-of-Wedlock Childbearing. Hyattsville, MD (Sept. 1995): 12.

- A study on nearly 6,000 children found that children from single parent homes had more physical and mental health problems than children who lived with two married parents. Additionally, boys in single parent homes were found to have more illnesses than girls in single parent homes.

Source: Hong, Gong-Soog and Shelly L. White-Means. “Do Working Mothers Have Healthy Children?” /Journal of Family and Economic Issues/ 14 (Summer 1993): 163-186.

- Children in single-parent families are two to three times as likely as children in two-parent families to have emotional and behavioral problems.

Source: Stanton, U.S. Department of Health and Human Services. National Center for Health Statistics. “National Health Interview Survey.” Hyattsville, MD, 1988.

Source: Zill, Nicholas and Carol Schoenborn. Child Developmental, Learning and Emotional Problems: Health of Our Nation’s Children. U.S. Department of Health and Human Services. National Center for Health Statistics. Advance Data 1990. Washington DC: GPO, 16 Nov. 1990.

- Three out of four teenage suicides occur in households where a parent has been absent.

Source: Elshtain, Jean Bethke. “Family Matters: The Plight of
America’s Children.” /The Christian Century/ (July 1993): 14-21.

4. Educational Achievement
- In studies involving over 25,000 children using nationally representative data sets, children who lived with only one parent had lower grade point averages, lower college aspirations, poor attendance records, and higher drop out rates than students who lived with both parents.

Source: McLanahan, Sara and Gary Sandefur. /Growing up with a Single Parent: What Hurts, What Helps./ Cambridge: Harvard University Press, 1994.

- Fatherless children are twice as likely to drop out of school.

Source: U.S. Department of Health and Human Services. National Center for Health Statistics. Survey on Child Health. Washington DC; GPO, 1993.

Source: McLanahan, Sara and Gary Sandefur. /Growing up with a Single Parent: What Hurts, What Helps/. Cambridge: Harvard University Press, 1994.

- After taking into account race, socioeconomic status, sex, age, and ability, high school students from single-parent households were 1.7 times more likely to drop out than were their corresponding counterparts living with both biological parents.

Source: McNeal, Ralph B. Jr. “Extracurricular Activities and High School Dropouts.” /Sociology of Education /68(1995): 62-81.

- School children from divorced families are absent more, and more anxious, hostile, and withdrawn, and are less popular with their peers than those from intact families.

Source: One-Parent Families and Their Children: The School’s Most Significant Minority. The Consortium for the Study of School Needs of Children from One-Parent Families. National Association of elementary School Principals and the Institute for Development of Educational Activities, a division of the Charles f. Kettering Foundation. Arlington, VA 1980.

5. Crime
- Children in single parent families are more likely to be in trouble with the law than their peers who grow up with two parents.

Source: U.S. Department of Health and Human Services. National Center for Health Statistics. National Health Interview Survey. Hyattsville, MD, 1988.

- In a study using a national probability sample of 1,636 young men and women, it was found that older boys and girls from female headed households are more likely to commit criminal acts than their peers who lived with two parents.

Source: Heimer, Karen. “Gender, Interaction, and Delinquency: Testing a Theory of Differential Social Control.” Social Psychology Quarterly 59 (1996): 39-61.

Source: Ryan, Gail et al. “Trendis in a National Sample of Sexually Abusive Youths.” /Journal of the American Academy of Child Adolescent Psychiatry/ 35 (January 1996): 17-25.

- A study in the state of Washington using statewide data found an increased likelihood that children born out-of-wedlock would become a juvenile offender. Compared to their peers born to married parents, children born out-of-wedlock were:
* 1.7 times more likely to become an offender and 2.1 times more likely to become a chronic offender if male.
* 1.8 times more likely to become an offender and 2.8 times more likely to become a chronic offender if female.
* 10 times more likely to become a chronic juvenile offender if male and born to an unmarried teen mother.

Puding Pisang

Mei 7th, 2012 § Tinggalkan sebuah Komentar

Buah favorit di rumah adalah pisang tapi daya serapnya kadang gak seimbang jadi pisang tersebut mulai mencoklat, gak busuk tapi ogah makannya :P

Seringnya pisang tersebut dibikin banana bread atau muffin pisang dan coklat cip, lama-lama bosaaannnn… nah kebetulan @ietoh ada sharing resep puding pisang cuma kelupaan difave akhirnya minta dishare resep tersebut via DM :P

Buat @sallyfauzi, @littlegiggletee yang kemarin sempat nanya dan mungkin sudah dijawab juga sama @ietoh, ini loh resep puding pisangnya saya copas langsung :)

Bahan: 1 sachet agar-agar, 3 buah pisang ambon matang empuk lumatkan, 125 gram gula, 750 cc susu cair, 1 buah telor kocok lepas.

Cara membuat: campus semua bahan kecuali telor, masak hingga matang (aduk-aduk hingga mendidih), masukkan ke kocokan telor, tuang ke cetakan, dinginkan. Selesai! :)

Tips: kalo ada krim kental boleh ditambahin kurang lebih 150 ml, gula bisa pake brown sugar, agar-agar boleh warna bening biar warna pisang dan brown sugar kelihatan. Oya buat yang gak suka atau alergi telor, puding pisang ini juga bisa tanpa telor.

Terima kasih ya @ietoh atas resep puding pisangnya yang gampil dan enak :)

Mocha Mix

Mei 7th, 2012 § Tinggalkan sebuah Komentar

Hujan-hujan enaknya ngeblog :P *makan gaji buta* eh mau sharing aja tentang resep minuman yang cocok diminum baik saat hujan maupun panas, bikinnya gampang tapi hasilnya gak kalah enak dengan bikinan gerai kopi yang terkenal itu loh jadi intinya sih pengiritan banget :D

Nemu resep Mocha Mix ini dari hasil pinteresting dan sumbernya dari sini. Bahannya mudah diperoleh (ngembat di pantry kantor juga bisa #eh), berikut bahan yang disiapkan:

1 cup susu bubuk

1 cup gula pasir

1 cup kremer

0.5 cup coklat bubuk

0.25 cup kopi bubuk (kalo lebih pengen terasa kopi tinggal ditambah menjadi 0.5 cup)

Cara membuatnya:

Campur semua bahan, aduk hingga merata lalu simpan diwadah tertutup.

Penyajian:

- untuk mocha mix hangat: tuang 2-3 sdm mocha mix ke dalam segelas (mug) air panas

- untuk mocha mix dingin (seperti frappuccino atau mocha frappe): siapkan 1.5 cup es batu, 0.5 cup susu cair, 0.5 cup mocha mix, blender semua bahan (eh ini sih bisa buat banyak ya)

Tips: kalo gak punya gelas ukur bisa ditimbang atau lebih gampangnya pake ilmu perbandingan (dulu gak bolos kan pas pelajaran matematika). Saya ngikutin resep tersebut juga gak persis sama kok, waktu itu nemu kremer sachetan ukuran 80 gram berarti untuk bahan yang jumlahnya sama dengan kremer (susu bubuk, gula pasir) tinggal disamakan saja jumlahnya dan bahan lain ya tinggal dipake itu ilmu perbandingan :D

Permak Ciput Ninja

Mei 6th, 2012 § Tinggalkan sebuah Komentar

20120506-023801.jpg

20120506-023826.jpg

Siapa yang ciput ninjanya sudah melar, gak berbentuk, kancing copot, benangnya dredel? *tunjuk tangan*
Sebel banget karena ciput ninja adalah underscarves andalan yang dapat menutupi rambut dan leher dengan cukup baik sehingga bisa mengaplikasikan shawl/scarf dengan aneka gaya hijab.

Pengen punya ciput ninja polem (seperti foto diatas) tapi terlanjur punya banyak ciput ninja biasa? Lagipula ciput ninja polem dipasaran kurang keren (kebanyakan gaya blink). Baiklah untuk menyiasatinya mari kita permak ciput ninja biasa menjadi ciput ninja polem.
Gampang kok, tidak perlu dijahit dengan mesin jahit cukup jahit tangan :) Alat yang diperlukan adalah:
- jarum pentul, jarum jahit dan benang
- kancing
- pita atau kain
- gunting
Cara membuatnya:
1. Pakai ciput ninja dan tentukan sudut polem yang diinginkan (sebelah kiri atau kanan) tandai sudut tersebut dengan jarum pentul.
2. Lipat seperti membuat kipas sudut ciput ninja kemudian dijahit sehingga mengkerut membentuk sudut.
3. Untuk hiasan bunga, siapkan pita atau sisa kain. Contoh membuatnya bisa dilihat disini.
4. Jahit hiasan bunga pada ciput menutupi kerutan sudut ciput.
5. Voila! Jadi deh ciput ninja polem keren dan yang terpenting hemat biaya :P

Hijab Playdate with TUMuslimah

April 28th, 2012 § Tinggalkan sebuah Komentar

*foto dari blognya Saa :)

Setelah dinanti sekian lama, tiba juga waktunya :) etapi aku datang telat karena dijalan ada truk mogok.

Jadi aku ikut playdate-nya @TUMuslimah yang diadakan di TM Studio gedungnya nyaru diantara Hero Gatsu dan All Fresh. Jauh-jauh hari dapat mention tawaran ikutan playdate dari @rainiw_, sebagai anggota forum yang pasif tawaran tersebut antara pengen dan gak pengen ikutan hehehe sok-sokan banyak pertimbangan sampe pas mutusin ya pengen ikut ternyata sudah diurutan buncit, alhamdulillah masih kebagian. Oiya aku ngajak teman sekantor buat ikutan juga kan lumayan tuh gak cengok etapi di hari H dia berhalangan hadir karena kerabat dekatnya meninggal dunia. Next time bareng playdatenya ya :)

Ikutan playdate ini aku bawa Vito & Ghita dan juga teteh, harap maklum ya soalnya kasihan kalo ditinggal di rumah terus padahal ini hari libur. Ternyata ada peserta lain yang bawa anaknya seperti Anty @littlegiggletee tapi emang sih paling riweuh ya aku soalnya 2 anak mana Vito bolak-balik sliweran selama tutorial dan Ghita yang ngantuk tapi pengen gabung sama tante-tante cantik, gak konsen deh merhatiin tutorialnya *salahé dhewek*.

Acara playdate pertama diisi oleh Saa @magensaa membahas mix & match dengan pendekatan yang gak biasa yang gak kepikiran deh bagi awam seperti mix & match warna pakaian sesuai dengan warna alam (Allah telah menciptakan alam yang begitu indah sehingga pantaslah kita terinspirasi karenanya) misalnya kepikiran gak untuk berpakaian seperti warna sawi putih atau serangga? Pasti gak pernah kepikiran kan?! Nah oleh @magensaa bisa loh dibuat konsep warna pakaian tersebut dan hasilnya cantik sekali. Hebat euy!

Sebelum sesi berikutnya, break dulu untuk makan siang dan sholat dzuhur. Ealah tiba-tiba Vito ribut pengen balon (di ruangan ada balon 2 biji entah milik siapa) maka bunda ngajak dia ke All Fresh buat beli balon yang hasilnya nihil tapi paling gak sedikit terhibur dengan beli snack dan minuman (lah nyari balon di All Fresh? Harusnya ke Hero dong). Bunda dapat kecelakaan kecil nih karena keseleo gak lihat jalan berlubang. Huhuhu dapat teguranNya karena gak ikut sholat dzuhur berjamaah.

Sesi kedua yang ditunggu-tunggu nih karena pembagian goodie bag untuk tutorial. Goodie bagnya seru loh dapat shawl & inner kamiidea dan produk Mosayu. Ada tiga tutorial yang gampang dipraktekkan dan bisa tanpa menggunakan jarum pentul loh. Selain itu ada doorprize untuk peserta yang bisa praktekkin hasil tutorial, untuk yang bisa jawab pertanyaan dari momods juga. Sayangnya bunda gak kebagian hehehe *makanya rajin morum dong biar bisa jawab pertanyaannya*.

Selesai playdate, kita ke kantor ayah buat pulang bareng. Nunggu lumayan lama harusnya ke inacraft ya orang tinggal nyebrang tapi karena kaki keseleo dan khawatir rame gak cocok buat anak kecil yowislah ngegeratak kantor ayah saja :D

Alhamdulillah, senang hari ini bertemu banyak teman baru, dapat ilmu, dapat shawl :D dan bisa bareng sama anak-anak (maaf ya momods TUMuslimah kalau tadi anakku mengganggu acara).

*postingan tanpa foto karena selama playdate gak sempat foto dan ngetwit :P * *minta foto ke @restya07* :)

Vito 4 Tahun

April 23rd, 2012 § 2 Komentar

20120423-222359.jpg

Selamat ulang tahun mas Vito yang ganteng :-*

Di hari ulang tahun Vito, bunda tidak membuat perayaan apapun, gapapa ya nak… Pagi tadi di sekolah PAUD ada acara peringatan Hari Kartini dan kesempatan buat bunda mendandani Vito dengan pakaian adat Kalimantan ala orang Dayak yang minimalis tapi sudah didobel baju dan celana panjang biar Vito gak malu :P Untungnya Vito nurut hehehe tapi sebelnya tadi pas bunda antar Vito ke sekolah ternyata teman-temannya kebanyakan menggunakan baju koko (gimana sih itu kan bukan pakaian adat?).

Beberapa hari sebelum ultah Vito sempat demam, bunda tidak masuk kerja untuk menemaninya karena kebetulan di rumah cuma ada teteh, ayah sedang dinas luar kota dan simbak pulang kampung. Fyuhhh… Kasihan Vito sakit karena gak kepegang oleh teteh yang tugas utamanya jagain Ghita. Semoga segera dapat mbak baru ya… *Ih jadi ngalor-ngidul sampe ngomongin ART* Biar cepat sembuh, bunda iming-imingi hadiah buat Vito ternyata dia gak mau dan cuma minta: Jalan-jalan naik kereta ke Bandung (hayooo ayah kapan nih?) sebenarnya Vito juga (lebih) perlu beli sepatu baru karena sepatu lama pake velcro yang cepet coplok *#kode buat ayah*.

Perkembangan Vito bagaimana? Secara fisik sih langsing, susah makan, picky eater, terpaksa lahap kalo yang nyuapin ayahnya :P sedangkan Vito sebagai kakak dari Ghita, dia tuh sayang-iri-benci-galak gitu ke adiknya tapi tetap idola bagi Ghita. Seperti pas Vito sakit kemarin, Ghita merasa kesepian gak ada teman main sekaligus berantem jadilah Ghita colek-colek Vito ngajak main :-) Vito dilingkungan pertemanannya sih sudah bukan anak bawang lagi tapi negatifnya kadang suka kebawa pengaruh jelek temannya (gemes deh sama temannya ini) sebagai orangtua ayah dan bunda hanya bisa menjelaskan do & don’t, sama-sama belajar deh. Soal sekolah PAUDnya, rencana cuma sampai pertengahan tahun dan akan pindah ke TK A yang dimiliki oleh teman baik keluarga yang insyaAllah beliau berdedikasi tinggi dalam mendidik anak-anak. Sekolah sekarang sudah ada PR loh, PR menulis huruf dan angka, sehari satu ya bunda bawa santai sajalah biar gak membebani Vito. Vito juga kadang berinisiatif untuk mengerjakan sendiri PR tsb, alhamdulillah Vito banyak nanya ajaib biar bundanya gak bengong :D , bunda belikan buku seri petualangan cilik yang lebih bebas bercerita karena banyak gambar detail, Vito juga sering bertindak sebagai pengingat kami ya sok tua gitu deh :-) Cita-cita Vito masih tetap jadi Petugas PMK kadang mau juga jadi polisi atau tentara, masih suka sama truk kontainer & kereta api.

Vito, mari bersama mengisi 4 tahunmu dengan penuh sukacita dan pembelajaran kehidupan *beuhhh berat pisan nya!* :-)

LKS Sekolah

April 13th, 2012 § 2 Komentar

Kepancing buat nulis soal LKS yang tadi pagi rame dibahas di timeline :P ini sih pendapat bunda ya berdasarkan pengalaman bersekolah dulu.

IMHO, buku LKS (Lembar Kegiatan Siswa, betul bukan ya arti singkatannya?) itu jualan penerbit ke sekolah, ngeringanin beban guru buat kasih tugas tambahan alias PR. Gak tau deh apakah ada persyaratan dari Dikbud (sekarang bukan Diknas lagi ya) mengenai penerbit yang boleh menerbitkan buku LKS. Harusnya pihak sekolah disempatkan untuk menyeleksi buku LKS yang akan diberikan ke siswa jadi begitu ada materi yang tidak sesuai bisa langsung diketahui. Kalaupun terlanjur dan menemukan materi yang tidak sesuai ya langsung komplen ke penerbit dan ditembuskan ke Dikbud biar nyaho gitu.

Pengalaman bunda dulu sih males banget kalo disuruh beli buku LKS (nambah biaya saja) apalagi ada embel-embel wajib karena mempengaruhi nilai. Buku LKS kan tipis ya kayak majalah tapi males baca apalagi jawabin soalnya mending beli majalah Bobo sekalian kan ada soal Bobo tuh yang kalo sudah mentok bisa ngintip kunci jawaban di halaman lain yang biasanya dicetak terbalik. Enak kan combo gitu daripada beli buku LKS dan kunci jawaban terpisah trus salah cetak hahaha.

Oya tadi baca komen di timeline tentang masalah LKS ini jadi kasihan sama orangtua yang emosian dan langsung meledak marah dan nyalah-nyalahin.

Balik lagi ke pengalaman dulu, sedikit bercerita bahwa bunda dulu waktu SMP pernah loh komplen ke Dikbud dan dijawab. Jadi ada suatu waktu muncul peraturan baru bahwa di hari tertentu siswa boleh berpakaian bebas, waduh bunda sih kurang setuju ya secara mungkin sudah tertanam diotak kalau sekolah ya seragam dan juga karena bunda merasa gak punya cukup pakaian bebas yang layak dipakai (anak SMP jaman dulu disuruh mikirin baju?). Pas hari berpakaian bebas benar saja ada gaya berpakaian yang aneh gak pantes. Nah bunda komplenlah ke Dikbud (nyari alamat Dikbud Jawa Tengah dari majalah MOP) tentang hal ini pokoknya bunda gak setuju dengan adanya peraturan hari berpakaian bebas di sekolah. Gak tau apakah karena bunda kirim surat komplen tsb atau memang ada tindak lanjut dari pihak Dikbud ke sekolah maka minggu berikutnya tidak ada lagi hari berpakaian bebas hehehe bunda pun dapat balasan surat komplen ya intinya terima kasih atas saran dan kritik gitu. Bunda sempat takut loh ngirim surat komplen ntar diblacklist oleh Dikbud ntar susah ngelanjutin sekolah *ngayal ketinggian*

Jadi benang merahnya kita berhak kok memberikan saran dan kritik tapi gak perlulah marah gak jelas, toh sistem yang buat manusia juga yang tak luput dari salah dan dosa *apeu*

Berat Di Anak

April 12th, 2012 § Tinggalkan sebuah Komentar

Entahlah ini memang cuma bunda atau ibu-ibu lain juga merasakannya. Jadi gini bunda merasa selama ini kalau mau melakukan suatu aktivitas diluar rutinitas pasti mikirnya ntar anak-anak gimana? Duh gak tega, trus yang ada gak jadi ngapa-ngapain deh.

Curhat nih? Yaaa gitu deh padahal kan pernah baca (lupa sumbernya) untuk hal ibadah Allah lebih diutamakan daripada lainnya termasuk anak-anak sendiri sedangkan prinsip bunda kalau bisa dan dibolehkan bawa anak-anak yowis dibawalah krucil walaupun nantinya pasti ada ngeluh keribetan -___-” *pentung*

Seperti bunda pengen ikut pengajian walaupun di masjid komplek rumah sekalipun pasti kepikiran anak-anak di rumah sama simbak padahal harusnya sama bundanya tapi kalau diajak ntar rewel.

Selama ini makanya bunda selalu sebisa mungkin ngajak anak-anak, gak mau pisah lama-lama deh (jangan-jangan bunda yang mengalami separation anxiety ya?). Jadi seperti urusan kerjaan, sudah sering Vito ikut ngantor (terutama kalau lagi maidless) ikut konsinyering (Bogor dan Bandunglah yang gak ongkos pesawat). Bunda minta izin terlebih dahulu ke atasan dan dibolehkan entah memang boleh atau kasihan ya walaupun ternyata hal ini menimbulkan kecemburuan rekan kerja lainnya, faktor yang bunda lupakan nih.

Gak usah jauh-jauh ngomongin urusan kerjaan bahkan cuma pergi ke pasar saja bunda pengennya ngajak Vito dan Ghita dan kadang diomelin oleh ayah kalau ngajak Ghita, “kasihan kena debu, panas, angin dll” yaaa benar juga sih tapi segitu protektifnya? Sedangkan bunda mikirnya malah kasihan Ghita ditinggal mulu di rumah sama simbak.

Anak-anak diajak tapi ngeluh keribetan? Yaiyalah wong bunda bukan superbunda yang bisa menaklukan dua anak sekaligus jadi bunda ajaklah simbak buat bantuin jagain. Ah kayaknya memang cuma alasan bunda ya pengen dekat anak tapi ogah ribet #manja *pentunglagi* maka kalau bepergian selain formasi orang tua dan anak ada juga formasi bedol rumah yaitu orang tua + anak + simbak.

Kalau bunda analisa perasaan berat di anak ini karena bunda gak 24jam selalu bersama anak (bukan mau mempermasalahkan WM dan SAHM kok) jadi begitu ada kesempatan bersama pengennya ngajak anak kemanapun pergi atau bunda dulunya induk kanguru ya? anak-anak kalo bisa dikantongin deh *krikkrikkrik*

Ghita 1 Tahun

April 4th, 2012 § Tinggalkan sebuah Komentar

20120404-225301.jpg

Syukur alhamdulillah, Ghita sudah 1 tahun :)

Alhamdulillah, Ghita tumbuh kembang dengan baik diantaranya sudah lancar berjalan kaki bahkan sudah bisa memutar badan dan mau lari saja (manuvernya sudah ok), giginya 4, senang main tepuk cilukba, senang main hape dan bergaya seolah sedang menelepon, senang main bola dan mainan milik Vito, makan maunya sambil jalan (byebye highchair), pinter ngambek (duh, ini gak tau deh niruin siapa? Bundanya kali…), suka manjat, nungging, ngerecokin Vito.

Berhubung anak bunda semuanya lahir di bulan April (Ghita – 2 April dan Vito – 23 April) maka sebagai emak irit bunda akan gabungkan perayaan ultahnya ya itupun belum ada rencana *lho?! Gimana sih…* ya palingan bunda baking cake trus bikin cemilan lain trus ajak teman Vito & Ghita buat ngumpul di rumah, gampang kan :D nah ini juga mungkin nunggu sesudah tanggal ultah Vito soalnya aneh saja kalau nduluin.

Oiya, sebagai hadiah ultah buat Ghita bunda belikan sendal di ITC, sengaja mampir sepulang kerja ealah ternyata kekecilan sampe jari kaki Ghita keluar jadi bunda tukarlah keesokan harinya :P

Tinggal nunggu kado dari ayah dan tantenya nih ;-)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 248 pengikut lainnya.