Oleh-Oleh Khas Medan

Sedikit bercerita mengenai oleh-oleh khas Medan. Beberapa minggu lalu ayah dinas luar kota ke Medan selama 5 hari, untungnya ayah pulang membawa oleh-oleh tidak hanya baju kotor :D sebenarnya mungkin tidak diniatkan untuk membawa oleh-oleh tapi karena teman kerjanya nitip ya sekalian aja.

Oleh-oleh khas Medan tuh sebenarnya banyak ada sirup markisa, manisan jambu bangkok, teri medan, teng-teng kacang, jus terong belanda, kopi sidikalang, bika ambon, bolu gulung Meranti, dll (google saja sendiri ya…); ayah hanya membeli 2 macam oleh-oleh yaitu bolu gulung Meranti dan bika ambon Zulaikha.

Bolu Gulung Meranti, Jl. Kruing 2K – Medan, Telp: 061-453-8217. Ayah membeli yang Standar Swiss Roll rasa Keju, menurut bunda untuk rasa bolunya sendiri biasa (untuk ukuran rasa menurut standar kota Jakarta), manis; kelebihannya dikejunya banyak banget tapi kalo kebanyakan makan bikin eneg cocok disantap dengan teh pahit.

Bika Ambon Zulaikha, Jl. Mojopahit No. 62, Telp: 061-452-8181. Bika Ambon yang dibeli oleh ayah adalah Bika Ambon rasa Durian, enak ada aroma dan sedikit rasa durian.

Mengutip tulisan Pak Bondan Winarno secara acak lengkapnya baca disini:

Industri oleh-oleh merupakan subsektor ekonomi yang sangat khas Indonesia. Di bagian dunia lainnya, jarang sekali saya melihat fenomena ini. Di Amerika Serikat, misalnya, beberapa kota besar memiliki ikon kuliner yang cukup populer. Tetapi, hampir semuanya merupakan makanan yang harus disantap di tempat. Takeaway hanya sebatas membawa makanan dari restoran ke rumah, bukan dari satu kota ke kota lain. Hal yang sama juga berlaku di Eropa. Bahkan di negara-negara Asia yang lain pun saya belum melihat tradisi berbelanja oleh-oleh seperti di Indonesia.

Justru karena merupakan satu hal yang sangat khas, mestinya sektor bisnis oleh-oleh ini harus dipikirkan lagi secara selangkah ke depan, khususnya untuk memberi kemudahan bagi konsumen yang pada gilirannya pasti akan menggelembungkan nilai ekonominya. Bayangkan, bila setiap penumpang pesawat terbang menenteng satu kemasan oleh-oleh dari setiap bandara pemberangkatan, berapa nilai ekonomi baru yang dapat dibangkitkan? Apalagi bila dipikirkan pula sistem produksinya secara bertingkat agar menguntungkan para pelaku ekonomi golongan kecil dan menengah. Ekonomi rakyat di bidang kuliner adalah kekuatan kita sejak dulu.

Yang juga sangat perlu dipertimbangkan adalah kemasan serta usia produk. Alangkah kecewanya kita bila membawa ayam panggang kalasan yang ternyata sudah basi ketika tiba di rumah. Berbagai jenis kue basah juga cukup rentan terhadap waktu, sehingga perlu ditangani secara khusus. Klappertaart dari Manado repot dibawa untuk perjalanan jauh.

Setuju banget kan baca tulisannya Pak Bondan? ayo kita kembangkan dan tingkatkan industri kreatif bidang oleh-oleh!

ps: dari cerita oleh-oleh khas Medan koq melebar hingga industri kreatif bidang oleh-oleh? sebenarnya ini pesan bunda untuk ayah agar setiap dinas luar kota ya bawa buah tangan gitu ga harus makanan, kan bisa kain tradisional khas daerah tsb, kerajinan tangan lainnya atau cerita pengalaman disana juga gapapa-lah :D

7 gagasan untuk “Oleh-Oleh Khas Medan

  1. Ping-balik: 2010 in review « It’s Hamad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s