Interior Design Talkshow

Tanggal 10 – 21 Agustus 2016 lalu berlangsung acara Young Designers Bazaar Creative Week 2016 di Food Society, Mall Kota Kasablanka, dimana para Young Designers ini adalah mahasiswa LaSalle College Jakarta. Saya pun baru tau acara ini karena mengikuti talkshownya di hari Sabtu lalu, sayang sekali gak sempat mengeksplor acaranya. Interior Design Talkshow bertema “Making […]

Festival Habibie

Karena broadcast acara ini menyebar di grup whatsapp maka tergoda juga untuk ajak anak-anak, menebus rasa bersalah karena meninggalkan mereka DLK sih.
Setiba di Jakarta pas jam makan siang jadi kami belok dulu di ke Bebek Slamet di Benhil, biar gak cranky! Saya sudah agak ilfil jalan-jalan ini karena kena macet di Tol Tangerang, Hafsha jackpot kena baju dan saya gak bawa baju ganti, ditambah lepek kepanasan.Huft banget.

Sampai di Medan Merdeka pun macet di sisi kiri jalan karena banyak mobil ngedrop dan cari parkiran. Ya akhirnya pun kami didrop depan Museum Nasional lalu ayah parkir di Kominfo. Rame banget di halaman museum ada kepala pesawat CN-250, ada panser dan antrian orang.

Masuk museum pun antri dan rada bingung acara Festival Habibie dimana? Kurang cermat membaca juga sih karena acara diisi dengan talkshow serius (kami tidak hadir), ada booth untuk anak-anak tapi harus muter museum dulu. Yowislah kami masuk dulu ke museum melihat koleksinya. Museum Nasional bagus yaaa… sayang masih banyak yang gak bisa baca dengan pegang-pegang koleksi museum. Sebel deh, ada lowongan buat polisi museum gak? Bawa toa buat neriakin orang-orang kayak gitu? 😠.

Menuju pintu keluar museum ketemulah dengan beberapa booth peserta acara Festival Habibie kebanyakan dari instansi bidang iptek dan militer. Vito senang di stand Pindad karena bisa cobain pegang senjata asli. 

Di halaman museum, kami ikutan antri untuk naik pesawat CN-250 (kasihan deh anak-anak belum pernah naik pesawat), antriannya macam malas menjalani tapi tanggung sudah capek-capek rugi keluar antrian.

Overall, anak-anak suka dengan acara Festival Habibie dan kunjungan ke Museum Nasional. Saya saja yang cranky karena terlalu ramai hehehe… Gimana ya satu sisi bagus mempromosikan museum tapi dengan keterbatasan space bikin tidak nyaman bagi pengunjung. Tapi memang strategi marketingnya Pak Habibie ini hebat ya… gak pake repot-repot pencitraan tapi pas gitu nyambunginnya baru selesai film eh trus ada acara festival. 

Semoga bertebaran ya bibit-bibit muda nan pintar dan baik seperti Pak Habibie di negeri tercinta ini. Semoga cita-cita Vito kuliah di Jerman tercapai. Aamiin…

Libur Lebaran 2016

Mau cerita kok ya antara lupa dan males πŸ˜…. 

Lebaran tahun 2016 ini agenda rutinnya adalah pulang kampung ke rumah uyut di Ciamis dan libur ala road trip ke Jawa, oke diperjelas lagi tepatnya ke Borobudur dan Solo.

Liburan di kampung uyut ini kami ajak anak-anak ke sawah dan sungai. Perjalanan ke sawah dan sungai ini cukup jauh dan berliku menyusuri pematang sawah. Hafsha digendong oleh uwak karena saya gak bisa menyeimbangkan diri πŸ˜‚. Enaknya sih botram di sawah tapi karena repot maka kami cukup minum air kelapa muda yang dipetik oleh uwak di tepi sungai. Selain itu, kami sempat ke Waduk Darma di Kuningan dan makan bakso di Pasar Cikijing. Biarin deh ya liburan di kampung uyut bikin baju kotor karena mancing dan masuk kolam, manjat pohon, mandi di sungai. Priceless experience!

Tanggal 9 Juli 2016, kami berangkat pagi hari menuju Candi Borobudur. Ini demi nenek yang sudah jalan-jalan ke luar negeri tapi belum pernah ke Borobudur πŸ˜„. Kami melewati jalur alternatif Rajadesa-Banjar-Kebumen-Purworejo, karena melawan arus balik maka perjalanan relatif lancar, sempat beli bengkuang di Kebumen. Kami tiba di Borobudur sudah malam jadi langsung ke homestay mbak Dwi untuk istirahat. Alhamdulillah homestaynya bersih, mbak Dwi dan keluarga ramah sekali.

Besok paginya setelah beberes sekalian check out kami menuju Candi Borobudur. Masih pagi, sudah mulai ramai, mulai terik. Sekitar 2 jam kami menikmati keindahan Candi Borobudur.

Tujuan selanjutnya adalah Solo. Awalnya pengen ke Jogja tapi karena keterbatasan waktu maka kami skip. Semoga liburan mendatang bisa puas-puasin ke Jogja. Dalam perjalanan Borobudur-Solo kami sempatkan untuk beli cobek, salak pondoh, dan bakso. 

Selama di Solo kami menginap di Royal Heritage Solo, untung pake membership jadi dapat harga terjangkau. Menurut pengalaman DLK saya dulu ke Solo, hotel ini strategis banget pas di pusat kota, dekat Pasar Klewer, Keraton, Galabo, dll. Kami tiba di Solo sudah sore jadi begitu check-in langsung istirahat. Makan malam cari yang dekat di Galabo, pesannya campur-campur biar bisa nyicipin πŸ˜‚ tapi masih hawa libur lebaran jadi gak semua penjual makanan ada.

Besok paginya setelah sarapan kami berjalan kaki menuju Keraton Solo. Maunya mampir ke Pasar Klewer tapi sejak kebakaran dipindah ke Alun-Alun. Keraton Solo pun sedang renovasi, cukup puas deh berkeliling dalam keraton. Gak banyak mengambil foto karena Ghita mengambil alih handphone, maunya dia yang fotoin.

Dari keraton kembali ke hotel kami istirahat sebentar merapikan barang untuk check-out. Kami sempat mampir ke Orion untuk beli oleh-oleh. Kalap tapi mulai tongpes hahaha. Lanjut perjalanan ke Tangsel via jalur Pantura. Dekat Rawa Pening sempat mampir buat beli cetakan kue cubit. Jalur Pantura ini melelahkan karena pemandangannya kering, kami makan malam di dekat Alun-alun Batang. Ayah banyak berhenti, nyetir sendirian bok! Next saya harus bisa nyetir biar bisa gantian.

Alhamdulillah kami sampai rumah dengan selamat dan pegel. Kangen selonjoran dan tidur di rumah. Liburan berikutnya nunggu Hafsha 5 tahun kali ya biar gak riweuh πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚.

#CeritaNebeng

Dari dulu pengen cerita tentang tebeng-menebeng via @nebengers tapi lupa, gak sempat, sok sibuk gitu deh πŸ˜›

Sudah tau kan tentang nebengers? kalau belum tau bisa klik FAQnya disini atau follow saja akun twitternya @nebengers eh ada appsnya juga sih untuk pengguna iOS dan android. Walaupun sekarang sudah tidak aktif nebeng, boleh dong sedikit berbagi #CeritaNebeng. Terlambat mbak! coba kalau rajin mungkin bisa terpilih untuk diterbitkan.

Dulu, waktu domisili di Jakarta Utara seringnya naik metro mini dan belum bisa bawa motor sendiri jadi kan lumayan kalau bisa nebeng pulang kerja, hemat ongkos dan bisa berbagi cerita dalam perjalanan (asli melelahkan perjalanan pulang kantor berbagi jalan dengan para transformers). Karena saya oportunis, kalau memberikan keuntungan ya pasti saya ikutan ya paling gak nambah temanlah.

Di Nebengers terbagi atas beberapa distrik sesuai wilayah domisili atau area commute. Ada grup whatsapps, ada dramanya… menyatukan berbagai kepala dengan latar belakang berbeda kan ada saja selisih pahamnya, apalagi saat pemilihan kepala distrik atau lurah ada yang tim si A, B, dll. Saya sih lebih banyak jadi silent reader dan reportase jalanan (seingatku sih begitu hehehe). Ya maklum jugalah banyak yang masih usia muda penuh semangat bergelora di dada jadi misal mau kopdar dan ternyata yang datang 4L ada yang misuh-misuh, dibilang gak soliderlah, dll. Terus pas saya pindah domisili dan ganti grup whatsapps malah grupnya sepi, pada sibuk kali ya? Grup whatsapps emang jodoh-jodohan. Ah namanya juga lika-liku kehidupan sosial media ibu kota.

Eits tapi dalam setiap komunitas kita ambil manfaat positifnya dong. Tujuan mulia nebengers adalah shaaring transportation, mengurangi kemacetan. Coba ada berapa banyak kursi motor dan mobil yang kosong dalam setiap perjalanan? Sedangkan naik angkutan umum berdesak-desakan. Dari berbagi tebengan kan bisa bertambah teman, bertambah wawasan, cocoklah sistemnya dengan orang Indonesia yang hobi bersosialisasi (enak kan kalau ada teman ngobrol?). Oiya ada juga yang bertemu jodoh dalam komunitas nebengers. So sweet banget kan 😍.

Seperti yang sudah disebut diatas, sekarang saya sudah tidak aktif padahal sekarang saya sudah bisa mengendarai motor hanya saja rute yang ditempuh rumah-stasiun pp. Kalau ada yang nebeng dengan senang hati saya beri tebengan. Jadi jangan kapok ya berbagi tebengan dan patuhi aturan lalu lintas dan etika yang ada. Selamat menebeng!
 

Tak Selebar Daun Kelor

Pernah dengan peribahasa “dunia tak selebar daun kelor” kan? dulu sebelum tau daun kelor sih kirain maksudnya dunia ini luas banget padahal sih daun kelor itu ukurannya imutπŸ˜›

Maksud dari postingan ini sih mau cerita bahwa orang-orang di masa kecil dan hampir tidak pernah berhubungan secara langsung ternyata menjadi bagian dari hidup kita. Jalan hidup saya termasuk yang tidak lurus sesuai jenjang sempat belok mencari jalan alternatif untuk kembali masuk ke jalur utama (panjang kalo diceritain sekarang…). Contoh langsung saja ya daripada bertele-tele:

  1. Saya sekantor dengan Diah yang merupakan teman SMA beda kelas beda pertemanan juga tapi sama-sama seangkatan masuk kantor sekarang.
  2. Saya sekomplek rumah dengan Asri teman SMA kelas 1 dan 2, baru taunya karena teman sekelas bikin grup wa. Nanti bertamu ah ke rumahnya. Oiya sekomplek juga dengan saudara kampung beda buyut yang baru ketauan pas acara halal bihalal di rumah orangtuanya.
  3. Suami saya sekantor dengan Siska teman SMA kelas 1 dan 2, lucu deh kalo buka FB message pas menanyakan hal tersebut.
  4. Endah, saudara kampung beda buyut ternyata sekantor dengan teman suami.

Nanti kalau ada lagi saya tambahin deh. Menurut saya hal ini cukup bikin surprise karena saya berasal dari kampung lalu hijrah ke Jakarta juga berpencar. Ambil hikmahnya saja untuk memperpanjang tali silaturahmi dan jangan lupa untuk membuat rekam jejak kebaikan, malu kan kalau diingat keburukan diri kita tapi jangan menutup diri juga akan saudara/teman yang sudah berubah insyaf. Duh, cem iya aja ya postingan kali ini hahaha (btw, ini sudah mengendap lama di kolom draft).

Ramadan 2016

  1. Alhamdulillah Vito 99% persen puasa (1 hari batal karena sakit).
  2. Sempatin sholat dzuhur ke Masjid Sunda Kelapa selama bulan puasa. Yeah walaupun cuma beberapa hari tapi senang bisa dengar kultum, bisa gerak buat jalan ke belakang kantor tau sendiri kan puasa bawaannya ngantuk.
  3. Sempatin sholat taraweh di mesjid dekat rumah, pernah bawa Hafsha juga tapi karena riweuh cuma sholat isya saja trus balik ke rumah.
  4. Kecopetan di Tanah Abang. Sampe sekarang belum semua dokumen penting diurus (SIM, STNK, kartu BPJS, dll). Kurang waspada juga sih, ahsudahlah malas membahasnya.
  5. Bukber, siapa sih yang gak senang ikutan bukber bareng teman-teman? Tapi cuma sedikit kok, lebih senang pulang cepat biar bisa buka puasa di rumah.
  6. Gaji 13 dan 14. Terima kasih Pak Presiden atas gaji 14. Gaji 13 khusus buat bayar daftar ulang sekolah, gaji 14 baru buat keperluan lebaran. Sebenarnya pengaturan finansial selama bulan puasa masih berantakan *tutup muka*.
  7. Belajar dagang via bazaar kantor. Susah ya jadi pedagang *lap keringet*.
  8. Pasar wadai. Mengenang masa kecil di Balikpapan dan kemarin di Banjarmasin menemukan pasar wadai bikin senang hati, good food, affordable price, nice seller.
  9. Belanja baju lebaran. Awalnya sih belanja baju anak-anak ternyata saya ikutan permak abaya dan beli gamis juga, lumayan bisa dipake untuk acara sekolah.
  10. Semoga diberikan kesempatan oleh Allah untuk menikmati indahnya Ramadan selanjutnya. Aamiin…